Brayen Leupung

Tempat rekreasi breayen leupung ...

Sunset Ulelhe

Pemandangan sunset di ulelhe ...

Gapang Beach Sabang

Pemandangan Pantai Gapang Sabang ...

Iboih Beach Sabang

Pemandangan Pantai Iboeh ...

Tampilkan postingan dengan label Adat dan Budaya Aceh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 November 2012

Suasana Meriahnya Belajar Seudati Massal di Car Free Day

Puluhan masyarakat Kota Banda Aceh mengikuti tari Seudati massal di acara car free day di kawasan Simpang Lima Banda Aceh, Minggu, 4 November 2012.

Tari Seudati massal ini dimulai sekitar pukul 07.30 wib pagi dan merupakan yang pertama digelar di Banda Aceh dan rencananya akan digelar setiap hari Minggu di acara yang sama. Acara itu juga diikuti bule dan warga Tionghoa Banda Aceh. Seperti apa acara Seudati massal tersebut? Berikut foto-fotonya:

Sumber : atjehpost.com

Belajar Seudati Massal di Arena Car Free Day

Setelah persiapan hampir sebulan, belajar Seudati massal akhirnya terlaksana untuk pertama kali dengan mengambil momen Car Free Day (CFD) di Jalan Protokol Daud Beureueh-Simpang Lima, Banda Aceh, Minggu (4/11).
Ratusan warga Banda Aceh, dari mulai anak kecil hingga orang tua tumpah ruah untuk menari bersama sekitar pukul 7.30 WIB pagi tadi.
Tidak saja masyarakat lokal, belajar tari Seudati massal ini juga menarik minak wisatawan asing untuk bergabung. ”Gak cuman masyarakat Aceh, Turis Asing asal California (USA) juga #BelajarSeudatiMassal lhoo”, tulis pemilik akun @antoniogayo.

Kegiatan yang rencananya akan digelar saban Minggu pagi ini, juga menjadi salah satu wadah dalam melestarikan kesenian tradisional yang saat ini begitu banyak budaya luar yang masuk ke Indonesia.
Maka dari itu beberapa pengagas belajar Seudati massal ini melahirkan wadah bersama, yakni Komunitas Cinta Seudati di jejaring sosial yang bisa anda ikuti di akun Twitter @cintaseudati.

Sumber : seputaraceh.com

Antisipasi Demam Gangnam, Aceh Gelar Latihan Seudati Massal

Ratusan warga menggelar tarian Seudati massal di Jalan Teungku Daud, Bereuh, Banda Aceh. Aksi itu bertujuan melestarikan tarian tradisional di tengah gempuran gangnam style di Indonesia.

Gangnam Style mewabah Indonesia. Banyak remaja Indonesia yang bisa menarikan tarian asal Korea tersebut. Bahkan, sejumlah penari melakukan tarian tersebut secara massal.

Kondisi itu berbeda dengan Seudati. Bahkan, tak semua orang Aceh dapat menarikan tarian yang memadukan gerakan tubuh dengan tepuk tangan di perut itu.

Lantaran itu, sejumlah pelatih Syeh Seudati Aceh mengajarkan kembali tarian Seudati secara massal kepada masyarakat. Bukan hanya warga Aceh, pendatang pun memberikan minat penuh pada kegiatan tersebut. Mereka pun beramai-ramai mempelajari tarian itu.

Seudati merupakan tarian khas Aceh yang sudah dikenal luas hingga ke beberapa negara. Tarian itu menjadi mata pelajaran kesenian di beberapa sekolah di Aceh.(Hendra Saputra/RRN)

Sumber : metronews.com

Rabu, 31 Oktober 2012

Suasana Malam Takbiran Idul Adha di Banda Aceh

Suasana malam takbiran idul adha 1433 H di Banda Aceh berlangsung cukup meriah. puluhan kelompok pererta pawai takbiran hadir untuk meriahkan malam takbiran tersebut, dari berjalan kaki membawa obor hingga menghiyas mobil dengan unik....






















Sabtu, 25 Agustus 2012

Pesta Kembang Api dimalam Takbiran

Idul fitri adalah hari kemenangan bagi kaum muslim. banyak cara yang di lakukan dalam menyambut malam kemenangan dari takbiran hingga pesta kembang api. Salah satunya di kota Banda Aceh yang berpusat di simpang lima ratusan warga meyarakan malam takbiran dengan kembang api.
Berikut beberapa foto takbiran dan pesta kembang api yang saya ambil.













Sabtu, 21 Juli 2012

MEUGANG (Tradisi Unik dan Indah menjelang Ramadhan di Aceh

Setiap tahunnya, dalam rangka menyambut kedatangan bulan Ramadhan (puasa) di masyarakat Aceh ada satu tradisi yang disebut dengan meugang atau mak meugang. Pada umumnya, meungang dilakukan satu hari atau ada daerah dua hari sebelum puasa dimulai. Hari-hari tersebut di Aceh disebut dengan sebutan Uroe Meugang atau Uroe Mak Meugang.


Tradisi Meugang sudah dilakukan secara turun-temurun sejak berabad-abad lamanya yang meskipun banyak yang tidak tidak tahu dari mana asal usulnya. Tetapi juga perlu diketahui bahwa tradisi meugang ini juga dilakukan pada saat menjelang hari raya Idul fitri dan Idul Adha di Aceh. Namun yang paling sangat terasa istimewa, meugang saat menyambut bulan puasa. Hal ini mungkin karena uroe meugang saat menyambut bulan puasa menjadi waktu transisi antara hari-hari biasa yang tidak ada kewajiban berpuasa dengan hari-hari yang diwajibkan berpuasa bagi orang-orang muslim.


Tradisi uroe meugang itu memang beda dengan hari-hari biasa dimana setiap keluarga pasti menu utama di rumahnya adalah masakan daging. Apakah daging kerbau atau daging sapi. Jadi, ada anggapan, bila tidak masak daging pada saat uroe meugang maka sepertinya terasa belum dikatakan meugang.

Bahkan membeli daging meugang di saat meugang puasa lebih banyak sebab bukan hanya disantap saat meugang saja tetapi juga terkadang di awetkan untuk persediaan dalam puasa. Pengawetan itu bisa dilakukan dengan pengeringan sehingga dikenal dengan sie tho (daging kering) atau ada juga (umumnya orang Aceh Besar) direbus menggunakan bumbu khusus sehingga disebut sebagai sie reuboh (daging rebus) yang rasanya agak-agak asam. Kedua jenis daging ini biasanya digunakan sebagai menu saat sahur pada malam-malam ramadhan. Dan dapat bertahan beberapa hari.


Oleh karena itu, pada setiap meugang tiba maka banyak orang menyembelih sapi atau kerbau untuk dijual. Karena permintaan cukup banyak, harga daging pada saat meungang biasanya sangat melambung tinggi. Berkaitan dengan ini, ada pemandangan yang unik hampir seluruh pelosok Aceh, yaitu munculnya tempat-tempat penjualan daging yang berderet memanjang.

Namun demikian, ada juga sekelompok masyarakat tidak membeli daging, tetapi mereka jauh-jauh hari membentuk kelompok tersendiri membeli sapi atau kerbau bersama-sama untuk disembelih pada saat meugang. Dan, bahkan orang-orang kantoran seperti PNS setiap menghadapi meungang, bila di kantor tidak menyembelih sapi dibagi kepada karyawannya terkadang diberi uang tambahan khusus untuk sie meugang (sie=daging) plus untuk bumbunya.

Namun ada hal lain kemudian meugang menjadi sangat penting dan memiliki nilai berharga dari traidisi meugang di Aceh adalah nilai silaturahim. Setiap datang uroe (hari) meugang itu hampir semua sanak keluarga berkumpul untuk menyantap makanan yang sudah dihidangkan. Bukan hanya keluarga dekat tetapi juga keluarga jauh juga hadir berkumpul. Atau bahkan ada yang mengajak anggota keluarga makan-makan di pantai atau di tempat rekreasi lainnya. Karena ini saat-saat berkumpul keluarga, maka orang-orang tua mengharapkan pada anak-anaknya agar disaat meugang tidak boleh ada yang marah-marah. Selain itu, meungang diisi dengan kenduri menjamu fakir miskin dan anak-anak yatim.

Bagi orang Aceh, meugang menjadi tradisi yang tidak akan pernah dapat dihilangkan begitu saja. Meskipun orang Aceh berada jauh dari komunitasnya, meskipun dalam skala kecil, mereka pasti akan melaksanakan tradisi ini. Ketika meugang datang, di rumah-rumah orang Aceh pasti akan tercium aroma masakan daging khas Aceh. Terutama gulai merah yang sangat mengugah selera.

Hanya saja bagi orang-orang Aceh di perantauan yang jauh dari kampung halamannya dan ini tak dapat dibantahkan bahwa di saat-saat meugang tiba pasti mereka memendam rindu yang sangat mendalam. Karena sebenarnya, meugang itu bukan hanya sekedar tradisi biasa. Tetapi di sana tersimpan banyak kenangan yang tidak akan mereka lupakan. Di sana ada senyum anggota keluarga yang tidak akan pernah hilang. Ada ibu, ada ayah, ada adik, ada kakak semuanya hanyut dalam kebersamaan. Mereka selalu menunggu, musim meungang kapan mereka dapat kembali pulang...

 Sumber : http://jogjaicon.blogspot.com/2010/08/indahnya-tradisi-meugang-jelang-ramdhan.html

7 Tradisi Menjelang Bulan Ramadhan Di Berbagai Daerah di Indonesia

Puasa Ramadhan 2012 - Bulan Ramadhan bulan yang penuh berkah, bulan yang penuh ampunan, bulan suci yang sangat ditunggu-tunggu bagi umat muslim diseluruh dunia. Dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadhan, disetiap daerah pasti memiliki tradisi khas untuk menyambut bulan ramadhan. Tentunya di daerah Anda juga memiliki tradisi yang unik, berikut 7 tradisi Menjelang Bulan Ramadhan Di Berbagai Daerah di Indonesia yang sudah Waloetz rangkum :

1. Dugderan
Dugderan semarang

Tradisi “Dugderan” ini berasal dari kota Semarang, Jawa Tengah. Nama “Dugderan” sendiri berasal dari kata “Dug” dan “Der”. Kata Dug diambil dari suara dari bedug masjid yang ditabuh berkali-kali sebagai tanda datangnya awal bulan Ramadhan. Sedangkan kata “Der” sendiri berasal dari suara dentuman meriam yang disulutkan bersamaan dengan tabuhan bedug.

Tradisi yang sudah berumur ratusan tahun ini terus bertahan ditengah perkembangan jaman. biasanya digelar kira-kira 1-2 minggu sebelum puasa dimulai. Karena sudah berlangsung lama, tradisi Dugderan ini pun sudah menjadi semacam pesta rakyat. Meski sudah jadi semacam pesta rakyat –berupa tari japin, arak-arakan (karnaval) hingga tabuh bedug oleh Walikota Semarang–, tetapi proses ritual (pengumuman awal puasa) tetap menjadi puncak dugderan.

Untuk tetap mempertahankan suasana seperti pada jamannya, dentuman meriam kini biasanya diganti dengan suara-suara petasan atau bleduran. Bleduran terbuat dari bongkahan batang pohon yang dilubangi bagian tengahnya, untuk menghasilkan suara seperti meriam biasanya diberi karbit yang kemudian disulut api.

2. Padusan


Padusan Klaten

Lain daerah pasti lain pula tradisinya, masyarakat di Klaten, Boyolali, Salatiga dan Yogyakarta biasa melakukan upacara berendam atau mandi di sumur-sumur atau sumber mata air ditempat-tempat kramat. Tradisi ini disebut “Padusa” yang bermakna agar jiwa dan raga seseorang yang akan melakukan ibadah puasa bersih secara lahir dan batin. Selain itu juga bermakna sebagai pembersihan diri atas segala kesalahan dan perbuatan dosa yang telah dilakukan sebelumnya. 

3. Meugang


meugang aceh

Berbeda dengan lainnya, di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) atau yang akrab disebut dengan kota “Serambi Mekah”, warganya menyambut datangnya bulan suci Ramadhan dengan menyembelih kambing atau kerbau. Tradisi ini disebut “Meugang”, konon kabarnya tradisi “Meugang” sudah ada sejak tahun 1400 Masehi, atau sejak jaman raja-raja Aceh.

Tradisi makan daging kerbau atau kambing ini biasa dilakukan oleh seluruh warga Aceh. Bahkan jika ada warga yang tidak mampu membeli daging untuk dimakan, semua warga akan bergotong-royong membantu, agar semua warganya dapat menikmati daging kambing atau kerbau sebelum datangnya bulan Ramadhan.
Tradisi “Meugang” biasanya juga dilakukan saat hari raya Lebaran dan Hari Raya Haji.

4. Jalur pacu


Jalur pacu riau

Di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, masyarakatnya memiliki tradisi yang mirip dengan lomba dayung. Tradisi “Jalur Pacu” ini digelar di sungai-sungai di Riau dengan menggunakan perahu tradisional, seluruh masyarakat akan tumpah ruah jadi satu menyambut acara tersebut.

Tradisi yang hanya digelar setahun sekali ini akan ditutup dengan “Balimau Kasai” atau bersuci menjelang matahari terbenam hingga malam.


5. Balimau


balimau padang sumbar

Tradisi Balimau hampir sama dengan tradisi padusa, yakni membersihkan diri dengan cara berendam atau mandi bersama-sama di sungai atau tempat pemandian.
Tradisi Balimau dilakukan oleh masyarakat Padang, Sumatera Barat. Biasanya tradisi ini dilakukan dari mulai matahari terbit hingga terbenam beberapa hari sebelum bulan Ramadhan.

Mirip dengan “Padusa”, makna dari tradisi Balimau ini berarti melakukan pembersihan diri secara lahir dan batin, agar seseorang siap menjalankan ibadah puasa.

6. Nyorog


nyorog tradisi betawi

Di Betawi, tradisi “Nyorog” atau membagi-bagikan bingkisan makanan kepada anggota keluarga yang lebih tua, seperti Bapak/Ibu, Mertua, Paman, Kakek/Nenek, menjadi sebuah kebiasan yang sejak lama dilakukan sebelum datangnya bulan Ramadhan. Meski istilah “Nyorog”nya sudah mulai menghilang, namun kebiasan mengirim bingkisan sampai sekarang masih ada di dalam masyarakat Betawi. Bingkisan tersebut biasanya berisi bahan makanan mentah, ada juga yang berisi daging kerbau, ikan bandeng, kopi, susu, gula, sirup, dan lainnya.

Tradisi “Nyorog” di masyarakat Betawi memiliki makna sebagai tanda saling mengingatkan, bahwa bulan suci Ramadhan akan segera datang, selain itu tradisi “Nyorog” juga sebagai pengikat tali silahturahmi sesama sanak keluarga.

7. Munggahan

munggahan tradisi sambut ramadhan

Munggahan adalah satu kegiatan berkumpul bagi anggota keluarga, sahabat dan bahkan juga teman-teman kita saling bermaaf-maafan sambil menikmati sajian makanan khas untuk kemudian mempersiapkan diri masing-masing dalam menghadapi bulan Ramadhan yang akan datang. Tradisi ini adalah kebiasaan yang dilakukan oleh orang sunda dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan. 

Biasanya tradisi ini dilakukan oleh hampir semua golongan masyarakat walaupun dengan cara yang berbeda-beda. Tetapi intinya tetap satu, yaitu berkumpul bersama sambil menikmati sajian makanan yang disuguhkan. Inilah tradisi yang biasa dilakukan ditengah masyarakat sunda pada umumnya yang secara turun temurun terus dipertahankan oleh setiap generasi berikutnya.


Bagaimana dengan tradisi di daerah Anda ??  




Sumber : http://www.waloetz.com/2012/07/7-tradisi-menjelang-bulan-ramadhan-di.html